
Asisten Gubernur Bank Sentral Australia (RBA) Chris Kent mengatakan pada Senin bahwa terdapat indikasi yang cukup kuat bahwa suku bunga netral meningkat di dalam negeri maupun secara global. Ia menambahkan bahwa sulit untuk menentukan tingkat suku bunga netral secara tepat di tengah tingginya ketidakpastian.
Terdapat indikasi yang cukup kuat bahwa suku bunga netral meningkat di dalam negeri maupun secara global.
Sulit untuk menentukan tingkat suku bunga netral secara tepat di tengah tingginya ketidakpastian.
Saat berita ini ditulis, pasangan AUD/USD diperdagangkan menguat 0,28% di sekitar 0,6965.

Salah satu faktor paling signifikan bagi dolar Australia (AUD) adalah tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Sentral Australia (RBA). Karena Australia merupakan negara yang kaya sumber daya alam, harga bijih besi, komoditas ekspor terbesarnya, juga menjadi faktor penggerak utama. Kondisi perekonomian Tiongkok sebagai mitra dagang terbesarnya turut berpengaruh, begitu pula dengan inflasi, laju pertumbuhan ekonomi, dan neraca perdagangan Australia. Sentimen pasar, yakni apakah investor lebih memilih aset berisiko (risk-on) atau mencari aset aman (risk-off), juga menjadi faktor yang berpengaruh. Sentimen risk-on berdampak positif bagi AUD.
Bank Sentral Australia (RBA) memengaruhi dolar Australia (AUD) dengan menetapkan tingkat suku bunga pinjaman antarbank di Australia. Hal ini memengaruhi tingkat suku bunga dalam perekonomian secara keseluruhan. Tujuan utama RBA adalah menjaga tingkat inflasi yang stabil di kisaran 2-3% dengan menaikkan atau menurunkan suku bunga. Suku bunga yang relatif tinggi dibandingkan dengan bank sentral utama lainnya mendukung AUD, sedangkan suku bunga yang relatif rendah memberikan dampak sebaliknya. RBA juga dapat menggunakan pelonggaran dan pengetatan kuantitatif untuk memengaruhi kondisi kredit. Pelonggaran kuantitatif berdampak negatif bagi AUD, sementara pengetatan kuantitatif berdampak positif.
Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Australia sehingga kondisi perekonomian Tiongkok sangat memengaruhi nilai dolar Australia (AUD). Ketika perekonomian Tiongkok berkinerja baik, negara tersebut membeli lebih banyak bahan baku, barang, dan jasa dari Australia, sehingga meningkatkan permintaan terhadap AUD dan mendorong penguatan nilainya. Hal sebaliknya terjadi ketika perekonomian Tiongkok tidak tumbuh secepat yang diperkirakan. Karena itu, data pertumbuhan Tiongkok yang secara tak terduga lebih baik atau lebih buruk dari perkiraan sering kali berdampak langsung pada dolar Australia dan pasangan mata uangnya.
Bijih besi merupakan komoditas ekspor terbesar Australia, dengan nilai mencapai $118 miliar per tahun berdasarkan data tahun 2021, dan Tiongkok sebagai tujuan utamanya. Oleh karena itu, harga bijih besi dapat menjadi faktor penggerak dolar Australia. Secara umum, jika harga bijih besi naik, AUD juga menguat karena permintaan agregat terhadap mata uang tersebut meningkat. Hal sebaliknya terjadi jika harga bijih besi turun. Harga bijih besi yang lebih tinggi juga cenderung memperbesar peluang Australia mencatat surplus neraca perdagangan, yang turut berdampak positif bagi AUD.
Neraca perdagangan, yaitu selisih antara pendapatan suatu negara dari ekspor dan pengeluarannya untuk impor, merupakan faktor lain yang dapat memengaruhi nilai dolar Australia. Jika Australia menghasilkan barang ekspor yang sangat diminati, nilai mata uangnya akan meningkat semata-mata karena kelebihan permintaan dari pembeli asing yang ingin membeli produk ekspornya dibandingkan dengan pengeluaran Australia untuk membeli produk impor. Dengan demikian, surplus neraca perdagangan memperkuat AUD, sedangkan defisit neraca perdagangan memberikan dampak sebaliknya.