
NZD/USD diperdagangkan di sekitar 0,5600 pada Kamis saat artikel ini ditulis, naik 0,18% pada hari tersebut. Dolar Selandia Baru (NZD) diuntungkan oleh pelemahan Dolar AS (USD), seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan komentar bernada hawkish dari Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) yang menopang mata uang tersebut. Namun, data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dapat membatasi penguatan lebih lanjut.

Dolar AS tertekan seiring penurunan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS, meskipun angka Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dirilis pada Rabu lebih tinggi dari perkiraan. Investor tetap yakin bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, sehingga mengurangi dukungan jangka pendek bagi Dolar AS.
Sementara itu, laporan Bloomberg mengindikasikan bahwa Tiongkok sedang memindahkan surat berharga AS ke bank kustodian di luar Amerika Serikat. Perkembangan ini turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memicu aksi ambil untung pada Dolar AS setelah mata uang tersebut baru-baru ini mencapai level tertinggi dalam 18 bulan.
Dari Selandia Baru, Kepala Ekonom RBNZ Paul Conway memberikan dukungan tambahan bagi Kiwi dengan mempertahankan sikap hawkish dalam kebijakan moneter. Conway menyatakan bahwa segala opsi masih terbuka terkait keputusan suku bunga bank sentral yang dijadwalkan pada akhir Oktober. Ia juga menegaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan resmi (Official Cash Rate/OCR) masih menjadi skenario yang paling mungkin, meskipun waktunya belum pasti.
Komentar tersebut memperkuat ekspektasi bahwa RBNZ dapat kembali melanjutkan pengetatan moneter, yang berpotensi menopang Dolar Selandia Baru melalui prospek suku bunga yang lebih mendukung.
Namun, data inflasi AS terbaru dapat mempersulit pemulihan NZD/USD. Pada Kamis, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan bahwa Indeks Harga Produsen (PPI) naik 6,3% secara tahunan pada September, dibandingkan dengan 5,6% pada Agustus dan ekspektasi pasar sebesar 5,3%. PPI inti, yang tidak mencakup harga pangan dan energi, juga melampaui ekspektasi dengan kenaikan 5% secara tahunan.
Angka-angka tersebut menyoroti tekanan inflasi yang masih bertahan di Amerika Serikat dan memperkuat alasan bagi The Fed untuk melanjutkan pengetatan moneter. Menurut perangkat CME FedWatch, pasar masih memperhitungkan peluang lebih dari 85% bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Ketidakpastian geopolitik juga dapat membatasi penguatan Dolar Selandia Baru. Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama konfrontasi antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz, terus menopang permintaan terhadap aset safe haven seperti Dolar AS.
Ke depan, investor akan berfokus pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada Jumat dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok. Pernyataannya dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai prospek kebijakan moneter The Fed dan memengaruhi arah pergerakan NZD/USD dalam jangka pendek.
Dolar Selandia Baru (NZD), yang juga dikenal sebagai Kiwi, merupakan mata uang yang populer diperdagangkan di kalangan investor. Nilainya secara umum ditentukan oleh kondisi perekonomian Selandia Baru dan kebijakan bank sentral negara tersebut. Namun, ada sejumlah faktor khusus yang juga dapat menggerakkan NZD. Kinerja perekonomian Tiongkok cenderung memengaruhi pergerakan Kiwi karena Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Selandia Baru. Kabar buruk mengenai perekonomian Tiongkok kemungkinan berarti berkurangnya ekspor Selandia Baru ke negara tersebut, sehingga menekan perekonomian dan mata uangnya. Faktor lain yang menggerakkan NZD adalah harga produk susu, karena produk susu merupakan komoditas ekspor utama Selandia Baru. Tingginya harga produk susu meningkatkan pendapatan ekspor, sehingga berdampak positif terhadap perekonomian dan NZD.
Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) bertujuan mencapai dan menjaga tingkat inflasi antara 1% dan 3% dalam jangka menengah, dengan fokus mempertahankannya di dekat titik tengah 2%. Untuk itu, bank sentral menetapkan tingkat suku bunga yang sesuai. Ketika inflasi terlalu tinggi, RBNZ akan menaikkan suku bunga untuk meredam aktivitas ekonomi. Namun, langkah tersebut juga akan meningkatkan imbal hasil obligasi, sehingga menambah daya tarik investasi di negara tersebut dan mendorong penguatan NZD. Sebaliknya, suku bunga yang lebih rendah cenderung melemahkan NZD. Selisih suku bunga, yaitu perbandingan antara suku bunga Selandia Baru saat ini atau yang diperkirakan berlaku dengan suku bunga yang ditetapkan Federal Reserve AS, juga dapat berperan penting dalam menggerakkan pasangan NZD/USD.
Rilis data makroekonomi Selandia Baru sangat penting untuk menilai kondisi perekonomian dan dapat memengaruhi valuasi Dolar Selandia Baru (NZD). Perekonomian yang kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pengangguran yang rendah, dan tingkat kepercayaan yang tinggi, berdampak positif bagi NZD. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menarik investasi asing dan dapat mendorong Reserve Bank of New Zealand untuk menaikkan suku bunga jika kekuatan ekonomi tersebut disertai inflasi yang tinggi. Sebaliknya, jika data ekonomi lemah, NZD kemungkinan akan terdepresiasi.
Dolar Selandia Baru (NZD) cenderung menguat saat minat terhadap risiko meningkat, atau ketika investor menilai risiko pasar secara umum rendah dan optimistis terhadap pertumbuhan. Kondisi ini cenderung menciptakan prospek yang lebih positif bagi komoditas dan mata uang yang disebut “mata uang komoditas”, seperti Kiwi. Sebaliknya, NZD cenderung melemah saat pasar bergejolak atau terjadi ketidakpastian ekonomi karena investor cenderung menjual aset berisiko tinggi dan beralih ke aset safe haven yang lebih stabil.