Dolar Selandia Baru melonjak melampaui 0,5650 di tengah penurunan imbal hasil dan sikap dovish The Fed

  • NZD/USD menguat 0,8% pada Jumat dan menyentuh level tertinggi baru dalam tiga pekan di dekat 0,5670.
  • Dolar AS tertekan di tengah penurunan imbal hasil obligasi AS dan memudarnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
  • Di Selandia Baru, laporan CPI pekan depan berpotensi menempatkan RBNZ dalam posisi dilematis, menurut para pakar Commerzbank.

Dolar Selandia Baru (NZD) mencatat kinerja terkuat di antara mata uang utama pada Jumat dan melonjak 0,8% terhadap Dolar AS (USD), menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan di 0,5667 saat artikel ini ditulis. Kiwi, yang sensitif terhadap risiko, mendapat dukungan dari penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sementara komentar bernada dovish dari para pejabat Federal Reserve (The Fed) pada awal pekan ini telah melemahkan permintaan spekulatif terhadap Dolar AS.

TMGM Analysis: Financial Market News, Economic Calendar & Market Insights

Data makroekonomi AS yang dirilis pada Kamis menunjukkan bahwa inflasi produsen meningkat melampaui ekspektasi pada September, sementara konsumsi ritel tetap tangguh di tengah tekanan harga yang lebih tinggi. Namun, data tersebut gagal mengangkat Dolar AS, yang tertekan setelah sejumlah pejabat The Fed mengisyaratkan bahwa suku bunga akan tetap tidak berubah setelah pertemuan Oktober, karena bank sentral membutuhkan lebih banyak waktu untuk menilai dampak kenaikan suku bunga pada September.

Warsh dari The Fed memuji ketangguhan ekonomi, tetapi tidak memberikan petunjuk arah suku bunga

Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, berbicara dalam forum Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok pada Jumat pagi dan menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi, meskipun ia menolak memberikan petunjuk yang jelas mengenai keputusan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Dolar AS telah menghapus sebagian penguatan sebelumnya selama dua hari terakhir, karena penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS meredakan tekanan di pasar obligasi global dan memberikan dorongan baru bagi aset berisiko seperti Kiwi. Namun, pemulihan pasar obligasi tersebut dipicu oleh derasnya peralihan ke aset aman di tengah meningkatnya kekhawatiran akan gelembung kecerdasan buatan (AI), bukan oleh meningkatnya kepercayaan terhadap utang pemerintah. Hal ini menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan tren tersebut.

Prospek Kiwi dibayangi ketidakpastian saat RBNZ menimbang inflasi dan lemahnya aktivitas ekonomi

Di Selandia Baru, analis Commerzbank Volkmar Baur menyoroti pentingnya laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) pekan depan. Menurutnya, “Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) karena itu menghadapi keputusan sulit saat menggelar pertemuan kebijakan moneter berikutnya dalam sekitar dua pekan.”

Baur menyatakan bahwa, “mengingat inflasi kembali meningkat, pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 80%,” tetapi ia mengingatkan bahwa “lemahnya aktivitas ekonomi dan masih belum terlihatnya efek lanjutan inflasi membuat saya agak lebih berhati-hati.” Pernyataan ini menegaskan dilema antara tekanan harga yang persisten dan lesunya permintaan yang mendasarinya.

Tanya Jawab Seputar Dolar Selandia Baru

Dolar Selandia Baru (NZD), yang juga dikenal sebagai Kiwi, merupakan mata uang yang populer diperdagangkan di kalangan investor. Nilainya secara umum ditentukan oleh kondisi ekonomi Selandia Baru dan kebijakan bank sentral negara tersebut. Namun, ada beberapa faktor khusus yang juga dapat menggerakkan NZD. Kinerja ekonomi Tiongkok cenderung memengaruhi pergerakan Kiwi karena Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Selandia Baru. Kabar buruk mengenai ekonomi Tiongkok kemungkinan berarti berkurangnya ekspor Selandia Baru ke negara tersebut, sehingga menekan perekonomian dan mata uangnya. Faktor lain yang menggerakkan NZD adalah harga produk susu, karena produk susu merupakan komoditas ekspor utama Selandia Baru. Harga produk susu yang tinggi meningkatkan pendapatan ekspor, sehingga memberikan kontribusi positif bagi perekonomian dan NZD.

Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) bertujuan mencapai dan mempertahankan tingkat inflasi antara 1% dan 3% dalam jangka menengah, dengan fokus menjaganya di dekat titik tengah 2%. Untuk itu, bank sentral menetapkan tingkat suku bunga yang sesuai. Ketika inflasi terlalu tinggi, RBNZ akan menaikkan suku bunga untuk meredam aktivitas ekonomi. Namun, langkah tersebut juga akan meningkatkan imbal hasil obligasi, sehingga menambah daya tarik investasi di negara tersebut bagi investor dan pada akhirnya memperkuat NZD. Sebaliknya, suku bunga yang lebih rendah cenderung melemahkan NZD. Selisih suku bunga, yaitu perbandingan antara suku bunga aktual atau yang diperkirakan di Selandia Baru dengan suku bunga yang ditetapkan oleh Federal Reserve AS, juga dapat berperan penting dalam menggerakkan pasangan NZD/USD.

Rilis data makroekonomi Selandia Baru sangat penting untuk menilai kondisi perekonomian dan dapat memengaruhi valuasi Dolar Selandia Baru (NZD). Perekonomian yang kuat, ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pengangguran yang rendah, dan tingkat kepercayaan yang tinggi, berdampak positif bagi NZD. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menarik investasi asing dan dapat mendorong Reserve Bank of New Zealand untuk menaikkan suku bunga apabila kekuatan ekonomi ini disertai inflasi yang tinggi. Sebaliknya, jika data ekonomi lemah, NZD cenderung melemah.

Dolar Selandia Baru (NZD) cenderung menguat ketika minat terhadap risiko meningkat, atau ketika investor menilai risiko pasar secara luas rendah dan optimistis terhadap pertumbuhan. Kondisi ini cenderung menghasilkan prospek yang lebih positif bagi komoditas dan mata uang yang disebut sebagai “mata uang komoditas”, seperti Kiwi. Sebaliknya, NZD cenderung melemah saat terjadi gejolak pasar atau ketidakpastian ekonomi karena investor cenderung menjual aset berisiko lebih tinggi dan beralih ke aset aman yang lebih stabil.