
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pada Senin bahwa belum ada sikap yang ditetapkan mengenai apakah pemerintah akan menyusun anggaran tambahan. Takaichi menambahkan bahwa pemerintah berencana mempertahankan penerbitan obligasi pemerintah Jepang (JGB) pada tingkat yang sesuai.
Belum ada sikap yang ditetapkan mengenai apakah pemerintah akan menyusun anggaran tambahan.
Berencana mempertahankan penerbitan JGB pada tingkat yang sesuai.
Membangun perekonomian yang tangguh dapat meningkatkan kepercayaan pasar terhadap yen.
Saat artikel ini ditulis, pasangan USD/JPY turun 0,07% pada hari ini ke 157,90.

Yen Jepang (JPY) merupakan salah satu mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Secara umum, nilainya ditentukan oleh kinerja perekonomian Jepang. Namun, secara lebih spesifik, nilai yen dipengaruhi oleh kebijakan Bank of Japan, selisih imbal hasil obligasi Jepang dan AS, serta sentimen risiko di kalangan trader, di antara berbagai faktor lainnya.
Salah satu mandat Bank of Japan adalah mengendalikan mata uang, sehingga langkah-langkahnya sangat menentukan pergerakan yen. BoJ terkadang melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing, umumnya untuk menurunkan nilai yen. Namun, BoJ menahan diri untuk tidak sering melakukannya karena pertimbangan politik dari mitra-mitra dagang utamanya. Kebijakan moneter ultra-longgar BoJ antara 2013 dan 2024 menyebabkan yen terdepresiasi terhadap mata uang utama lainnya karena semakin lebarnya perbedaan arah kebijakan antara Bank of Japan dan bank-bank sentral utama lainnya. Belakangan ini, pengurangan kebijakan ultra-longgar tersebut secara bertahap telah memberikan sejumlah dukungan bagi yen.
Selama satu dekade terakhir, sikap BoJ yang tetap mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar telah memperlebar perbedaan arah kebijakan dengan bank sentral lainnya, terutama Federal Reserve AS. Hal ini turut memperlebar selisih imbal hasil obligasi AS dan Jepang bertenor 10 tahun, sehingga menguntungkan dolar AS terhadap yen Jepang. Keputusan BoJ pada 2024 untuk secara bertahap meninggalkan kebijakan ultra-longgar, disertai pemangkasan suku bunga oleh bank-bank sentral utama lainnya, kini mempersempit selisih tersebut.
Yen Jepang kerap dipandang sebagai aset investasi yang aman. Artinya, ketika pasar mengalami tekanan, investor cenderung menempatkan dana mereka dalam mata uang Jepang karena dianggap dapat diandalkan dan stabil. Gejolak pasar berpotensi memperkuat nilai yen terhadap mata uang lain yang dianggap lebih berisiko sebagai pilihan investasi.