
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan pada Selasa bahwa belum ada keputusan mengenai pendanaan untuk peningkatan belanja pertahanan yang diperkirakan akan terjadi. Katayama menambahkan bahwa pemerintah akan mempertimbangkan langkah-langkah untuk memastikan pendanaan yang stabil dengan tetap berfokus pada keberlanjutan fiskal.
Belum ada keputusan mengenai pendanaan untuk peningkatan belanja pertahanan yang diperkirakan akan terjadi.
Akan mempertimbangkan langkah-langkah untuk memastikan pendanaan yang stabil dengan tetap berfokus pada keberlanjutan fiskal.
Pemerintah membahas belanja pertahanan.
Saat artikel ini ditulis, pasangan USD/JPY naik 0,04% pada hari ini ke 158,55.

Yen Jepang (JPY) merupakan salah satu mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Secara umum, nilainya ditentukan oleh kinerja perekonomian Jepang. Namun, secara lebih spesifik, faktor-faktor yang memengaruhinya antara lain kebijakan Bank of Japan, selisih imbal hasil obligasi Jepang dan AS, serta sentimen risiko di kalangan trader.
Salah satu mandat Bank of Japan (BoJ) adalah pengendalian mata uang, sehingga langkah-langkahnya sangat menentukan pergerakan Yen. BoJ beberapa kali melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing, umumnya untuk menurunkan nilai Yen. Namun, BoJ menahan diri untuk tidak terlalu sering melakukannya karena pertimbangan politik dari mitra dagang utamanya. Kebijakan moneter ultra-longgar BoJ selama 2013 hingga 2024 menyebabkan Yen melemah terhadap mata uang utama lainnya akibat semakin lebarnya perbedaan arah kebijakan antara Bank of Japan dan bank-bank sentral utama lainnya. Belakangan ini, pengurangan kebijakan ultra-longgar tersebut secara bertahap telah memberikan dukungan bagi Yen.
Selama satu dekade terakhir, sikap BoJ yang tetap mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar telah memperlebar perbedaan arah kebijakan dengan bank sentral lainnya, terutama Federal Reserve AS. Hal ini mendorong pelebaran selisih imbal hasil obligasi AS dan Jepang bertenor 10 tahun, yang menguntungkan Dolar AS terhadap Yen Jepang. Keputusan BoJ pada 2024 untuk secara bertahap meninggalkan kebijakan ultra-longgar, disertai pemangkasan suku bunga oleh bank-bank sentral utama lainnya, kini mempersempit selisih tersebut.
Yen Jepang sering dipandang sebagai aset investasi yang aman (safe haven). Artinya, ketika pasar mengalami tekanan, investor cenderung menempatkan dana mereka dalam mata uang Jepang karena dianggap andal dan stabil. Gejolak pasar cenderung memperkuat nilai Yen terhadap mata uang lain yang dipandang lebih berisiko sebagai tujuan investasi.