Rupee India menguat terhadap Dolar AS selama lima hari berturut-turut

  • Rupee India melanjutkan penguatan terhadap Dolar AS seiring melemahnya mata uang AS tersebut.
  • Warsh dari The Fed menekankan stabilitas harga dan permintaan yang didorong oleh AI.
  • Penguatan INR yang ditopang langkah-langkah RBI bisa jadi hanya berlangsung singkat.

Rupee India (INR) terus menguat terhadap Dolar AS (USD), ditopang oleh pelemahan mata uang AS dan langkah-langkah tegas Reserve Bank of India (RBI) untuk membatasi permintaan Dolar AS dari perusahaan pemasaran minyak (OMC).

Pada awal perdagangan Jumat, pasangan USD/INR mencatat level terendah baru dalam lebih dari lima pekan di 94,69. Pada sesi Asia, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur nilai Dolar AS terhadap enam mata uang utama, mencatat level terendah baru dalam 10 hari di dekat 101,80.

TMGM Analysis: Financial Market News, Economic Calendar & Market Insights

Dolar AS melanjutkan pelemahan pada Jumat setelah pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam sesi diskusi santai bersama Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva. Dalam diskusi tersebut, ia menekankan pencapaian stabilitas harga, lonjakan investasi, dan pertumbuhan struktural yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI).

Warsh soroti lonjakan investasi dan risiko AI, The Fed tetap membuka opsi hingga akhir tahun

Pidato Ketua The Fed Warsh memperoleh skor 5,6/10 pada FXS Speechtracker, sedikit lebih lunak dibandingkan rata-rata historis sebesar 6,1/10. Skor ini mencerminkan nada berhati-hati meskipun ia menyampaikan komentar optimistis mengenai pertumbuhan struktural dan lonjakan investasi. Pengakuannya bahwa ia “terlalu dibayangi trauma krisis keuangan global” menegaskan kecenderungan untuk tetap waspada terhadap stabilitas keuangan dan risiko ekstrem. Meski demikian, Warsh menekankan bahwa perkembangan terkini secara umum sesuai dengan ekspektasi The Fed dan bahwa keputusan kebijakan utama akan semakin jelas pada pertemuan Oktober dan Desember. Fokus Warsh pada AI sebagai pendorong permintaan, serta pada forum dengar pendapat di lapangan dan gugus tugas, mengisyaratkan upaya membangun landasan pengetahuan baru sebelum berkomitmen pada arah kebijakan yang lebih jelas. Hal ini membuat para pelaku perdagangan Dolar terus mencermati data produksi, ketenagakerjaan, dan inflasi yang akan dirilis.

FXS Fed Sentiment Index tidak berubah, dengan pergerakan 0,00 poin dan tetap berada pada level tinggi 127,51, yang masih mencerminkan sikap hawkish meskipun skor pidato pada FXS Speechtracker sedikit lebih lunak. Tidak adanya pergerakan indeks mengindikasikan bahwa pernyataan Warsh, meski menekankan kehati-hatian dan ketidakpastian seputar AI serta risiko ekstrem, tidak secara berarti mengubah persepsi pasar mengenai sikap dasar The Fed yang hawkish menjelang sisa pertemuan tahun 2026.

Seperti biasa, Ketua The Fed Warsh tidak menyampaikan pernyataan berarti mengenai prospek kebijakan moneter. Warsh sebelumnya telah menyatakan secara tegas bahwa “apa yang disebut panduan kebijakan ke depan” tidak tepat dalam situasi saat ini.

Sementara itu, pasar keuangan tetap yakin bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, tetapi akan menaikkannya pada Desember, menurut perangkat CME FedWatch.

Pekan ini, pemicu utama penguatan signifikan mata uang India tetap berasal dari langkah-langkah RBI untuk membatasi permintaan Dolar AS. Namun, para pakar pasar meragukan keberlanjutan penguatan INR.

Langkah RBI stabilkan INR, tetapi OCBC peringatkan pemulihan mungkin hanya sementara

Para ahli strategi OCBC menyoroti bahwa langkah RBI yang membatasi akses terhadap derivatif INR tertentu tanpa penyerahan fisik hanya untuk tujuan lindung nilai, memperluas kewajiban cadangan kas sebesar 20% agar mencakup transaksi lindung nilai valas milik bank sendiri yang memenuhi syarat, serta menyediakan fasilitas khusus USD bagi perusahaan minyak, hanya mengalihkan permintaan mata uang tersebut dari pasar spot, bukan mengurangi kebutuhan mendasar India akan Dolar AS.

OCBC menyimpulkan bahwa “kami masih melihat kemungkinan adanya ruang bagi penguatan INR dalam jangka pendek, tetapi keberlanjutan pergerakan tersebut akan bergantung pada apakah arus keluar portofolio melambat dan tekanan eksternal dari harga minyak serta imbal hasil AS mereda.” Untuk saat ini, mereka menilai bahwa langkah kebijakan terbaru “mungkin membantu memperkokoh posisi INR dalam jangka pendek, bukan menandai pembalikan yang tegas atas tren depresiasinya secara keseluruhan.”

Analisis Teknikal USD/INR

Pada grafik harian, USD/INR diperdagangkan di bawah 95,00 dan mempertahankan bias bearish jangka pendek karena masih berada di bawah rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) 20 periode di 95,76.

Posisinya di bawah hambatan dinamis utama ini mengindikasikan bahwa penurunan terkini masih berlanjut, sementara Indeks Kekuatan Relatif (RSI) di 32,51 bergerak sedikit di atas area jenuh jual. Hal ini mengisyaratkan bahwa momentum penurunan melambat, tetapi belum berbalik arah.

Untuk pergerakan naik, resistance terdekat berada pada EMA 20 periode di sekitar 95,76, tempat setiap pemulihan kemungkinan akan menghadapi tekanan jual awal. Untuk pergerakan turun, level terendah 3 September di 94,29 menjadi support utama.

(Analisis teknikal dalam artikel ini ditulis dengan bantuan perangkat AI. Pelajari lebih lanjut.)

Tanya Jawab Seputar Rupee India

Rupee India (INR) merupakan salah satu mata uang yang paling sensitif terhadap faktor eksternal. Harga minyak mentah (India sangat bergantung pada impor minyak), nilai Dolar AS – sebagian besar perdagangan dilakukan dalam USD – dan tingkat investasi asing semuanya berpengaruh. Intervensi langsung Reserve Bank of India (RBI) di pasar valuta asing untuk menjaga kestabilan nilai tukar, serta tingkat suku bunga yang ditetapkan RBI, juga merupakan faktor utama yang memengaruhi Rupee.

Reserve Bank of India (RBI) secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga kestabilan nilai tukar guna membantu kelancaran perdagangan. Selain itu, RBI berupaya mempertahankan inflasi pada target 4% dengan menyesuaikan suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya memperkuat Rupee. Hal ini terkait dengan peran strategi “carry trade”, yaitu investor meminjam dana di negara bersuku bunga rendah untuk menempatkan dananya di negara yang menawarkan suku bunga relatif lebih tinggi dan memperoleh keuntungan dari selisihnya.

Faktor makroekonomi yang memengaruhi nilai Rupee mencakup inflasi, suku bunga, laju pertumbuhan ekonomi (PDB), neraca perdagangan, dan arus masuk investasi asing. Laju pertumbuhan yang lebih tinggi dapat menarik lebih banyak investasi asing sehingga meningkatkan permintaan Rupee. Defisit neraca perdagangan yang mengecil pada akhirnya akan memperkuat Rupee. Suku bunga yang lebih tinggi, khususnya suku bunga riil (suku bunga dikurangi inflasi), juga berdampak positif bagi Rupee. Kondisi pasar dengan selera risiko yang meningkat dapat mendorong arus masuk investasi asing langsung dan tidak langsung (FDI dan FII) yang lebih besar, yang juga menguntungkan Rupee.

Inflasi yang lebih tinggi, terutama jika relatif lebih tinggi dibandingkan negara-negara sebanding dengan India, umumnya berdampak negatif terhadap mata uang karena mencerminkan penurunan nilai akibat kelebihan pasokan. Inflasi juga meningkatkan biaya ekspor, sehingga lebih banyak Rupee dijual untuk membiayai pembelian barang impor, yang berdampak negatif bagi Rupee. Pada saat yang sama, inflasi yang lebih tinggi biasanya mendorong Reserve Bank of India (RBI) menaikkan suku bunga, dan hal ini dapat berdampak positif bagi Rupee karena meningkatnya permintaan dari investor internasional. Inflasi yang lebih rendah memberikan dampak sebaliknya.