
EUR/USD tetap menguat setelah membukukan kenaikan tipis pada hari sebelumnya, diperdagangkan di sekitar 1,1230 pada sesi Asia hari Jumat. Pasangan mata uang ini merangkak naik seiring pelemahan Dolar AS (USD) menyusul komentar terbaru dari para pemimpin utama di bidang keuangan.

Dalam diskusi santai bersama Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva di Bangkok, Ketua Federal Reserve AS (Fed) Kevin Warsh menegaskan kembali komitmen Fed terhadap stabilitas harga, sembari menolak memberikan penilaian dini mengenai hasil pertemuan kebijakan mendatang. Warsh menyoroti bahwa lonjakan investasi saat ini merupakan faktor pendorong pertumbuhan paling signifikan dalam perekonomian global.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan AS untuk Urusan Internasional, Erin Browne, menyerukan agar IMF mengambil pendekatan yang lebih tegas dalam mengidentifikasi ketidakseimbangan global dan mendorong pandangan yang berimbang dengan mempertimbangkan guncangan ekonomi positif yang dipimpin AS. Ia juga memperingatkan bahwa pergerakan mata uang yang tajam dan tidak teratur dapat memicu volatilitas di pasar keuangan yang lebih luas.
Namun, Dolar AS mendapat dukungan dari data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja pada Kamis. Indeks Harga Produsen (PPI) AS melonjak 6,3% secara tahunan pada September, kenaikan terbesar sejak 2022, jauh melampaui konsensus pasar sebesar 5,3% dan menyusul kenaikan Agustus yang direvisi menjadi 5,6%. Secara bulanan, PPI naik 1,3%, jauh melampaui estimasi analis sebesar 0,5%. PPI inti, yang tidak mencakup pangan dan energi, juga lebih tinggi dari perkiraan, naik 0,7% secara bulanan dan 5,0% secara tahunan.
Meskipun angka inflasi tinggi, ekspektasi pasar terkait keputusan suku bunga Federal Reserve sebagian besar tidak berubah. Menurut CME FedWatch Tool, para pedagang memperkirakan probabilitas sebesar 72% bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember telah meningkat menjadi 92%.
Dari Eropa, momentum kenaikan pasangan EUR/USD masih terbatas akibat ketidakpastian politik di Eropa, terutama di Prancis. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde menekankan bahwa Prancis harus mengatasi tantangan utang negaranya melalui konsolidasi fiskal, sehingga meredam spekulasi bahwa ECB mungkin melakukan intervensi dengan membeli obligasi Prancis untuk menahan kenaikan imbal hasil.
Meskipun Lagarde menyatakan bahwa inflasi yang dipicu energi belum menyebar ke perekonomian kawasan euro secara lebih luas, sehingga mendukung sikap kebijakan yang berhati-hati, pembuat kebijakan ECB Gediminas Šimkus menegaskan bahwa kenaikan suku bunga bulan ini tetap menjadi opsi jika diperlukan. Pasar masih memperhitungkan kenaikan suku bunga ECB berikutnya pada Desember.
Euro adalah mata uang bagi 20 negara Uni Eropa yang tergabung dalam zona euro. Euro merupakan mata uang kedua yang paling banyak diperdagangkan di dunia setelah Dolar AS. Pada 2022, Euro menyumbang 31% dari seluruh transaksi valuta asing, dengan rata-rata nilai transaksi harian lebih dari $2,2 triliun. EUR/USD merupakan pasangan mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, dengan porsi sekitar 30% dari seluruh transaksi, diikuti oleh EUR/JPY (4%), EUR/GBP (3%), dan EUR/AUD (2%).
Bank Sentral Eropa (ECB), yang berlokasi di Frankfurt, Jerman, adalah bank sentral untuk zona euro. ECB menetapkan suku bunga dan mengelola kebijakan moneter. Mandat utama ECB adalah menjaga stabilitas harga, yang berarti mengendalikan inflasi atau mendorong pertumbuhan. Instrumen utamanya adalah menaikkan atau menurunkan suku bunga. Suku bunga yang relatif tinggi – atau ekspektasi kenaikan suku bunga – biasanya akan mendukung Euro, begitu pula sebaliknya. Dewan Gubernur ECB mengambil keputusan kebijakan moneter dalam pertemuan yang diadakan delapan kali setahun. Keputusan dibuat oleh para kepala bank sentral nasional di zona euro dan enam anggota tetap, termasuk Presiden ECB, Christine Lagarde.
Data inflasi zona euro, yang diukur dengan Indeks Harga Konsumen yang Diharmonisasi (HICP), merupakan indikator ekonomi penting bagi Euro. Jika inflasi meningkat lebih tinggi dari perkiraan, terutama jika melampaui target ECB sebesar 2%, ECB harus menaikkan suku bunga untuk kembali mengendalikannya. Suku bunga yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain biasanya akan mendukung Euro, karena membuat kawasan tersebut lebih menarik bagi investor global untuk menempatkan dana mereka.
Rilis data menggambarkan kondisi perekonomian dan dapat memengaruhi Euro. Indikator seperti PDB, Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur dan jasa, ketenagakerjaan, serta survei sentimen konsumen dapat memengaruhi arah pergerakan mata uang tunggal ini. Perekonomian yang kuat berdampak positif bagi Euro. Selain menarik lebih banyak investasi asing, kondisi ini juga dapat mendorong ECB untuk menaikkan suku bunga, yang secara langsung akan memperkuat Euro. Sebaliknya, jika data ekonomi lemah, Euro cenderung melemah. Data ekonomi dari empat perekonomian terbesar di kawasan euro (Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol) sangat penting karena keempatnya menyumbang 75% perekonomian zona euro.
Rilis data lain yang penting bagi Euro adalah neraca perdagangan. Indikator ini mengukur selisih antara pendapatan suatu negara dari ekspor dan pengeluarannya untuk impor selama periode tertentu. Jika suatu negara menghasilkan barang ekspor yang sangat diminati, nilai mata uangnya akan meningkat semata-mata karena tambahan permintaan dari pembeli asing yang ingin membeli barang tersebut. Oleh karena itu, surplus neraca perdagangan memperkuat mata uang, sedangkan defisit neraca perdagangan berdampak sebaliknya.