
AUD/USD memangkas sebagian kenaikan sebelumnya pada Jumat karena ekspektasi kebijakan ketat Federal Reserve (The Fed) menahan penurunan Dolar AS (USD) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah keduanya melemah pada hari sebelumnya. Saat berita ini ditulis, pasangan tersebut diperdagangkan di sekitar 0,6941 setelah menyentuh level tertinggi intrahari di 0,6967, dan masih berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan.

Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak nilai Dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama, diperdagangkan di sekitar 101,90 setelah menyentuh level terendah intrahari di 101,58, yang juga merupakan level terendah dalam dua pekan. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun yang menjadi acuan pulih mendekati 5,11% setelah turun ke level terendah dalam tiga pekan di sekitar 5,04% pada Kamis.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS di seluruh tenor turun pada Kamis, menyeret Dolar AS menjauh dari level tertinggi dalam 18 bulan di 102,94 yang dicapai awal pekan ini. Pergerakan ini terjadi ketika kekhawatiran atas valuasi kecerdasan buatan (AI) dan investasi yang didanai utang memicu aksi jual saham serta mendorong investor beralih ke obligasi pemerintah.
Namun, Dolar AS mendapat sejumlah dukungan karena data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan belanja konsumen yang tetap kuat membuat ekspektasi pasar masih condong pada kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut.
Meski data menunjukkan kondisi yang kuat, para pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober. Ekspektasi kenaikan justru terpusat pada Desember, dengan CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sekitar 90%.
Dari Australia, laporan pasar tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan pada Kamis meredam ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Reserve Bank of Australia (RBA). Jumlah orang yang bekerja turun sebanyak 39,3 ribu pada September, dibandingkan perkiraan kenaikan 20 ribu, sementara tingkat pengangguran berada di 4,7%.
Data tersebut mengindikasikan bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi membebani perekrutan tenaga kerja. Pasar kini memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 2–3 November setelah menaikkannya empat kali tahun ini.
Meski demikian, risalah pertemuan September menunjukkan bahwa RBA tetap terbuka terhadap pengetatan lebih lanjut, dengan Dewan siap kembali menaikkan suku bunga jika diperlukan untuk mencapai sasaran inflasi dan ketenagakerjaannya.
Reserve Bank of Australia (RBA) menetapkan suku bunga dan mengelola kebijakan moneter Australia. Keputusan diambil oleh dewan gubernur melalui 11 pertemuan setiap tahun serta pertemuan darurat sewaktu-waktu jika diperlukan. Mandat utama RBA adalah menjaga stabilitas harga, yang berarti tingkat inflasi sebesar 2–3%, serta “...berkontribusi pada stabilitas mata uang, kesempatan kerja penuh, serta kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Australia.” Instrumen utamanya untuk mencapai hal ini adalah menaikkan atau menurunkan suku bunga. Suku bunga yang relatif tinggi akan memperkuat Dolar Australia (AUD), begitu pula sebaliknya. Instrumen RBA lainnya mencakup pelonggaran dan pengetatan kuantitatif.
Secara tradisional, inflasi selalu dianggap sebagai faktor negatif bagi mata uang karena secara umum menurunkan nilai uang. Namun, pada era modern, yang terjadi justru sebaliknya seiring pelonggaran pembatasan arus modal lintas negara. Inflasi yang sedikit lebih tinggi kini cenderung mendorong bank sentral menaikkan suku bunga. Hal ini kemudian menarik lebih banyak arus modal masuk dari investor global yang mencari tempat menguntungkan untuk menyimpan dana mereka. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik, yang dalam konteks Australia adalah Dolar Australia.
Data makroekonomi mengukur kesehatan suatu perekonomian dan dapat memengaruhi nilai mata uangnya. Investor lebih memilih menanamkan modal di perekonomian yang aman dan tumbuh daripada yang rentan dan menyusut. Arus modal masuk yang lebih besar meningkatkan permintaan agregat dan nilai mata uang domestik. Indikator umum seperti PDB, Indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor manufaktur dan jasa, data ketenagakerjaan, serta survei sentimen konsumen dapat memengaruhi AUD. Perekonomian yang kuat dapat mendorong Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga, yang juga mendukung AUD.
Pelonggaran kuantitatif (QE) adalah instrumen yang digunakan dalam situasi ekstrem ketika penurunan suku bunga tidak cukup untuk memulihkan aliran kredit dalam perekonomian. QE merupakan proses ketika Reserve Bank of Australia (RBA) mencetak Dolar Australia (AUD) untuk membeli aset – biasanya obligasi pemerintah atau korporasi – dari lembaga keuangan, sehingga menyediakan likuiditas yang sangat mereka butuhkan. QE biasanya menyebabkan AUD melemah.
Pengetatan kuantitatif (QT) merupakan kebalikan dari QE. Kebijakan ini dilakukan setelah QE ketika pemulihan ekonomi sedang berlangsung dan inflasi mulai meningkat. Dalam QE, Reserve Bank of Australia (RBA) membeli obligasi pemerintah dan korporasi dari lembaga keuangan untuk menyediakan likuiditas. Sebaliknya, dalam QT, RBA menghentikan pembelian aset tambahan dan tidak lagi menginvestasikan kembali dana pokok dari obligasi dalam portofolionya yang jatuh tempo. Kebijakan ini akan berdampak positif atau mendukung penguatan Dolar Australia.