Sarapan Pasar Harian TMGM: 2026-08-11
Ringkasan Pagi
- Ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi tema utama pasar setelah Iran menyatakan tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat selama masa jabatan Presiden Donald Trump dan mempertahankan syarat untuk pembukaan penuh kembali Selat Hormuz.
- Harga minyak naik tajam selama periode pelaporan, dengan WTI pada satu titik melonjak lebih dari 6%, karena ketidakpastian atas pelayaran di Hormuz dan serangan di kawasan menjaga kekhawatiran pasokan tetap tinggi.
- Imbal hasil US Treasury naik pada hari Senin seiring pasar bersiap menghadapi data inflasi AS yang akan datang, sementara harga minyak yang lebih tinggi menambah kekhawatiran inflasi.
- Presiden Cleveland Fed Beth Hammack mengatakan kebijakan AS saat ini tidak secara berarti membatasi perekonomian dan menyerukan sejumlah kenaikan suku bunga.
- Laporan terpisah mengenai data tenaga kerja AS menyebutkan bahwa angka ketenagakerjaan Juli yang lebih lemah dan revisi ke bawah telah mengurangi pricing pasar untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September.
- Indeks Dolar AS diperdagangkan lebih kuat selama jam perdagangan Asia pada hari Senin karena ketegangan geopolitik mendukung permintaan terhadap dolar, meskipun data tenaga kerja AS yang lebih lemah meredam ekspektasi kenaikan suku bunga.
- Di Jepang, laporan mengenai Bank of Japan menyebutkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah tenor panjang sedang naik dan pasar memperhitungkan peluang sekitar 50% untuk kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September.
- Menjelang rapat kebijakan hari Selasa, laporan menyebutkan bahwa Reserve Bank of Australia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga kasnya tidak berubah di 4,35% untuk pertemuan kedua berturut-turut seiring meredanya tekanan inflasi.

Ikhtisar
Periode pelaporan didominasi oleh perkembangan di Timur Tengah yang berpusat pada Iran, Amerika Serikat, dan Selat Hormuz. Iran menutup kemungkinan negosiasi dengan AS selama masa jabatan Presiden Donald Trump, sementara laporan terpisah menyebutkan Teheran masih menuntut pelonggaran sanksi, kompensasi, dan perubahan pada postur militer AS sebelum jalur perairan tersebut dibuka kembali sepenuhnya. Perkembangan tersebut, bersama laporan serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Saudi dan klaim yang belum terkonfirmasi mengenai serangan rudal di dekat Oman, menjaga risiko pasokan energi tetap menjadi sorotan.
Kisah energi dan suku bunga saling terkait erat melalui kekhawatiran inflasi. Harga minyak naik kuat selama sesi, dan imbal hasil US Treasury juga bergerak lebih tinggi seiring pasar menantikan data inflasi AS. Dalam pemberitaan kebijakan moneter AS, Presiden Cleveland Fed Beth Hammack berpendapat bahwa kebijakan belum cukup ketat dan mengatakan kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan, sementara laporan lain menyebutkan data tenaga kerja AS yang lebih lemah telah mengurangi pricing pasar untuk kenaikan pada September. Di Asia-Pasifik, ekspektasi pengetatan Bank of Japan tetap menjadi fokus dan laporan menjelang pertemuan Reserve Bank of Australia mengarah pada suku bunga kas 4,35% yang tidak berubah.
Perkembangan Geopolitik
Iran memperkeras sikap terhadap pembicaraan dengan AS saat negosiasi Selat Hormuz masih belum terselesaikan
Iran mengatakan tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat selama masa jabatan Presiden Donald Trump, sebuah kemunduran bagi upaya untuk meredakan ketegangan dan membuka kembali Selat Hormuz. Laporan terpisah menyebutkan diskusi yang dimediasi Oman mengenai pengelolaan selat tersebut mengalami kemajuan, tetapi Teheran masih bersikeras pada konsesi yang lebih luas sebelum pelayaran komersial sepenuhnya dilanjutkan, termasuk penghentian aksi militer, pelonggaran sanksi, kompensasi atas kerusakan terkait konflik, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta penarikan pasukan angkatan laut dan udara AS dari sekitar Iran. Satu laporan juga mencatat klaim media sosial yang belum terkonfirmasi mengenai serangan rudal terhadap sebuah kapal tanker di lepas pantai Oman dan jatuhnya drone AS, tetapi menyebutkan klaim tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh pemantau maritim, Komando Pusat AS, atau media berita utama.
Energi & Komoditas
Minyak melonjak karena ketidakpastian Hormuz dan serangan regional menjaga risiko pasokan tetap tinggi
Minyak mentah WTI naik tajam pada hari Senin, dengan laporan terpisah menyebutkan kenaikan lebih dari 3%, lebih dari 6%, dan level di sekitar $77,55, $78,80, dan $81,15 per barel pada titik yang berbeda selama sesi. Pendorong umum di seluruh pemberitaan tersebut adalah ketidakpastian mengenai kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali sepenuhnya, dengan sekitar 20% pasokan energi global disebut melewati jalur perairan itu. Laporan juga menyebutkan syarat Iran untuk pembukaan kembali, negosiasi yang sedang berlangsung dengan Oman mengenai jalur pelayaran yang aman, dan dugaan serangan drone Houthi terhadap kilang Saudi Aramco di Jazan sebagai faktor yang mempertahankan kekhawatiran atas infrastruktur energi regional dan arus minyak.
Makroekonomi & Bank Sentral
Imbal hasil US Treasury naik menjelang data inflasi karena harga minyak yang lebih tinggi menambah kekhawatiran CPI
Imbal hasil US Treasury naik pada hari Senin seiring pasar mengambil posisi menjelang rilis data inflasi AS yang akan datang, dengan laporan mengaitkan pergerakan tersebut dengan kekhawatiran baru bahwa harga minyak yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan harga konsumen. Pemberitaan tersebut menyebutkan kenaikan imbal hasil terjadi setelah laporan Nonfarm Payrolls AS pada hari Jumat lebih lemah dari perkiraan dan mencerminkan sensitivitas yang berlanjut terhadap data inflasi yang akan dirilis pada akhir pekan ini.
Hammack dari The Fed mengatakan kebijakan belum cukup ketat dan menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut
Presiden Cleveland Fed Beth Hammack mengatakan pada hari Senin bahwa suku bunga kebijakan AS saat ini tidak secara berarti membatasi perekonomian dan bahwa sejumlah kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan. Pernyataannya menambahkan nada hawkish pada diskusi kebijakan AS di tengah periode ketika laporan lain dalam periode tersebut menyoroti data tenaga kerja yang lebih lemah dan perubahan ekspektasi pasar terhadap langkah Federal Reserve berikutnya.
Data tenaga kerja AS yang lebih lemah mengurangi pricing pasar untuk kenaikan Fed pada September
Laporan terpisah pada hari Senin menyebutkan data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dan revisi ke bawah telah secara tajam mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September. Satu artikel menyebutkan Nonfarm Payrolls Juli secara tak terduga turun 23.000 dan payrolls Juni direvisi menjadi 20.000 dari 57.000, sementara peluang tersirat pasar untuk kenaikan 25 basis poin pada September disebut sekitar 46% dalam satu laporan dan di bawah 50% dalam laporan lain, turun dari level yang lebih tinggi sepekan sebelumnya atau pada akhir Juli. Pemberitaan yang sama menyebutkan satu kali kenaikan masih diperhitungkan untuk Desember.
Dolar menguat karena ketegangan geopolitik mengimbangi ekspektasi suku bunga AS yang lebih lunak
Indeks Dolar AS diperdagangkan di sekitar 99,70 selama jam perdagangan Asia pada hari Senin, dengan laporan mengaitkan dukungan tersebut pada permintaan aset safe haven yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah dan ketidakpastian seputar Selat Hormuz. Artikel yang sama menyebutkan data tenaga kerja AS yang lebih lemah telah meredam ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat, dengan mengacu pada probabilitas tersirat pasar yang lebih rendah untuk kenaikan pada September meskipun risiko geopolitik mendukung mata uang tersebut selama sesi.
Ekspektasi pengetatan Bank of Japan tetap menjadi fokus saat imbal hasil JGB tenor panjang naik
Laporan pada hari Senin menyebutkan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor panjang naik karena kekhawatiran inflasi dan fiskal, sementara pasar memperhitungkan peluang sekitar 50% untuk kenaikan suku bunga Bank of Japan sebesar 25 basis poin pada September dan kenaikan penuh pada akhir tahun. Artikel tersebut menyebutkan Summary of Opinions Bank of Japan bulan Juli menunjukkan beberapa anggota ingin mempertahankan suku bunga tidak berubah untuk saat ini guna menilai dampak tertunda dari langkah sebelumnya, tetapi nada keseluruhan mendukung pengetatan lebih lanjut dan mencerminkan kekhawatiran tentang risiko inflasi melampaui target jika tindakan ditunda.
RBA diperkirakan mempertahankan suku bunga kas di 4,35% pada pertemuan hari Selasa
Menjelang keputusan kebijakan hari Selasa, laporan menyebutkan Reserve Bank of Australia berada di jalur untuk mempertahankan Official Cash Rate tidak berubah di 4,35% untuk pertemuan kedua berturut-turut. Artikel tersebut menyebutkan inflasi yang lebih lunak telah meredakan ekspektasi pengetatan lebih lanjut dan membingkai keputusan mendatang sebagai penahanan suku bunga, bukan perubahan kebijakan.
Agenda Terjadwal
- Keputusan kebijakan Reserve Bank of Australia — Selasa: Laporan menyebutkan Reserve Bank of Australia akan mempertahankan Official Cash Rate tidak berubah di 4,35% untuk pertemuan kedua berturut-turut.
- Rilis data inflasi AS mendatang — Pekan ini: Laporan menyebutkan pasar bersiap menghadapi angka inflasi AS pada akhir pekan ini di tengah kekhawatiran baru mengenai dampak harga minyak yang lebih tinggi terhadap inflasi.
Ringkasan Penutup
Tema utama sesi ini adalah ketegangan di Timur Tengah seputar Iran dan Selat Hormuz, lonjakan tajam harga minyak, serta interaksi antara kekhawatiran inflasi yang didorong energi dan ekspektasi bank sentral. Sinyal kebijakan AS bercampur antara pejabat The Fed yang hawkish dan pricing suku bunga yang lebih lunak akibat data tenaga kerja, sementara Jepang dan Australia tetap menjadi fokus melalui ekspektasi pengetatan Bank of Japan dan keputusan RBA yang akan datang.









