

Periode pelaporan didominasi oleh dua tema yang memiliki relevansi regional yang luas: kembali meningkatnya ketegangan di pasar energi terkait Selat Hormuz, serta sorotan baru terhadap kebijakan moneter Jepang dan pengelolaan mata uangnya. Kisah minyak memiliki signifikansi yang jelas bagi Asia karena menggabungkan gangguan geopolitik, pasokan produk olahan yang lebih ketat, dan kenaikan kembali harga minyak mentah serta gas oil.
Di Jepang, laporan bahwa Bank of Japan mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga lagi pada September menambah latar belakang yang sudah sensitif bagi yen, yang diperdagangkan dalam kondisi libur dengan likuiditas tipis sementara pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan intervensi lebih lanjut. Secara keseluruhan, perkembangan ini menegaskan bagaimana risiko geopolitik dan ekspektasi bank sentral tetap menjadi pendorong utama arus berita keuangan selama periode tersebut.
Harga minyak naik selama periode pelaporan karena harapan atas kesepakatan AS-Iran dalam waktu dekat untuk membuka kembali Selat Hormuz melemah. Menurut laporan yang diberikan, Iran menetapkan syarat untuk membuka kembali selat tersebut, termasuk tuntutan reparasi, dan Presiden AS Donald Trump merespons dengan tuntutan pembayaran kompensasi bagi para korban konflik. Commerzbank mengatakan minyak mentah Brent naik 5% dan diperdagangkan mendekati USD 90 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Juli, sementara gas oil naik hampir 10% menjadi sedikit di bawah USD 1.350 per ton untuk pertama kalinya sejak akhir April. Laporan tersebut juga menyebut gangguan kilang dan serangan drone terhadap kilang di Arab Saudi, Rusia, dan Libya sebagai faktor yang memperketat pasokan diesel global, dengan spread crack gas oil kembali bergerak di atas USD 70 per barel.
Jiji Press melaporkan bahwa Bank of Japan mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan pada rapat kebijakan 17-18 September setelah mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Juli. Laporan tersebut menyebut para pembuat kebijakan sedang menilai risiko inflasi ke atas yang terkait dengan depresiasi yen, tingginya harga minyak mentah global, dan pertumbuhan pesat permintaan yang terkait dengan kecerdasan buatan. Jika dibahas, langkah tersebut akan mencerminkan jadwal yang lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak pelaku pasar, dan hal itu menambah perhatian terhadap arah kebijakan Jepang selama sesi tersebut.
Yen Jepang diperdagangkan dalam kisaran ketat selama libur Mountain Day, dengan USD/JPY berada di sekitar 159,30 dalam kondisi pasar yang tipis setelah pasangan mata uang tersebut membukukan kenaikan hampir 1% pada hari sebelumnya. Laporan yang diberikan menyebut yen telah memangkas sekitar setengah dari penguatan yang dibukukan selama reli terbarunya yang didorong oleh intervensi, sementara para analis terus membahas apakah likuiditas yang berkurang dapat membuka peluang bagi intervensi resmi lainnya. Laporan yang sama juga mencatat bahwa ketidakpastian seputar suku bunga AS setelah data payrolls Juli yang lemah telah menambah latar belakang yang lebih luas bagi pergerakan mata uang.
Perkembangan utama dalam periode pelaporan adalah kenaikan kembali harga minyak dan diesel yang terkait dengan ketegangan di Selat Hormuz serta fokus baru pada kebijakan Jepang setelah laporan bahwa Bank of Japan mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada September, dengan perdagangan yen juga dipengaruhi oleh likuiditas tipis akibat libur dan spekulasi intervensi.