Perak naik ke atas $57 meski ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat dan Dolar AS menguat

  • Perak naik 0,34% pada Senin, ditopang ketegangan geopolitik yang berlanjut dan permintaan aset lindung nilai.
  • Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pemulihan Dolar AS membatasi penguatan logam mulia tersebut.
  • Tekanan inflasi yang terus berlanjut memperkuat ekspektasi pengetatan lebih lanjut oleh Federal Reserve sebelum akhir tahun.

Perak (XAG/USD) diperdagangkan di sekitar $57,20 pada Senin, naik 0,34% pada hari itu saat berita ini ditulis. Logam putih ini tetap bergerak positif meskipun Dolar AS (USD) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS sedikit pulih, karena ketidakpastian geopolitik yang berlanjut terus menopang permintaan aset lindung nilai.

TMGM Analysis: Financial Market News, Economic Calendar & Market Insights

Pemulihan Dolar AS dan imbal hasil obligasi AS membatasi potensi kenaikan Perak, seiring investor menilai kembali prospek kebijakan moneter Federal Reserve (Fed). Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti logam mulia, sementara penguatan Dolar AS membuat Perak lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang lain.

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur nilai Dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama, diperdagangkan di sekitar 101,95 setelah turun ke 101,58 pekan lalu. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menjadi acuan pulih ke sekitar 5,12%, setelah menyentuh level terendah 5,03% pada Kamis.

Pemulihan ini terjadi setelah aksi jual saham teknologi pekan lalu, yang dipicu kekhawatiran atas valuasi terkait kecerdasan buatan, mendorong investor mencari perlindungan pada obligasi pemerintah dan logam mulia. Namun, ekspektasi pengetatan moneter tambahan terus membatasi daya tarik Perak.

Inflasi tetap menjadi perhatian utama para pengambil kebijakan. Tingginya harga energi, yang terkait dengan konflik berkepanjangan di Timur Tengah, terus memicu tekanan harga di seluruh perekonomian AS. Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) September sama-sama melampaui ekspektasi pasar, memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan di atas target Fed sebesar 2% lebih lama dari perkiraan.

Dengan latar belakang ini, analis Nordea mempertahankan ekspektasi pengetatan moneter lebih lanjut, dengan memperkirakan satu kenaikan suku bunga tambahan oleh Fed sebelum akhir tahun dan satu kenaikan lagi pada 2027. Bank tersebut berpendapat bahwa kebijakan moneter masih belum cukup ketat mengingat ketahanan ekonomi AS dan tekanan inflasi yang terus berlanjut.

Ekspektasi pasar juga mencerminkan prospek kebijakan yang semakin ketat ini. Menurut perangkat CME FedWatch, para trader memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober sebesar 17%, sementara peluang kenaikan pada Desember mencapai 90%.

Ketua Fed Kevin Warsh belum memberikan petunjuk yang jelas mengenai waktu pengambilan keputusan kebijakan mendatang. Dalam pidatonya di Bangkok pada Jumat, Warsh menyatakan, "Saya tidak menentukan sikap sebelum rapat berlangsung," sehingga investor masih belum mendapat kepastian mengenai langkah bank sentral berikutnya.

Sementara itu, perkembangan geopolitik terus memberikan sejumlah dukungan bagi harga Perak. Ketegangan di Timur Tengah tetap tinggi karena perundingan antara Washington dan Teheran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menghadapi hambatan besar.

Iran telah menawarkan untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut dalam tujuh hari jika Amerika Serikat menerima persyaratannya. Namun, perbedaan pendapat seputar program nuklir Teheran terus menghambat terobosan diplomatik. Serangan terhadap kapal-kapal niaga dan pertempuran yang terus berlangsung antara Arab Saudi dan kelompok Houthi semakin memperkuat kekhawatiran mengenai pasokan energi global.

Perkembangan ini mempertahankan permintaan aset lindung nilai, membantu Perak menahan tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan Dolar AS. Meski demikian, keputusan Presiden AS Donald Trump untuk melonggarkan sementara sanksi terhadap Rusia membuka peluang tambahan pasokan energi, yang dapat meredakan sebagian tekanan inflasi.

Untuk saat ini, Perak tetap ditopang oleh ketidakpastian geopolitik, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga Fed lebih lanjut dapat terus menahan momentum penguatannya.

Pertanyaan Umum tentang Perak

Perak merupakan logam mulia yang banyak diperdagangkan di kalangan investor. Secara historis, Perak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Meskipun kurang populer dibandingkan Emas, trader dapat beralih ke Perak untuk mendiversifikasi portofolio investasi, karena nilai intrinsiknya, atau sebagai potensi lindung nilai selama periode inflasi tinggi. Investor dapat membeli Perak fisik dalam bentuk koin atau batangan, atau memperdagangkannya melalui instrumen seperti reksa dana yang diperdagangkan di bursa (ETF), yang mengikuti harganya di pasar internasional.

Harga Perak dapat bergerak karena beragam faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau kekhawatiran akan resesi yang dalam dapat mendorong lonjakan harga Perak karena statusnya sebagai aset lindung nilai, meskipun dampaknya tidak sebesar pada Emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, Perak cenderung naik ketika suku bunga turun. Pergerakannya juga bergantung pada kinerja Dolar AS (USD) karena aset ini dihargai dalam dolar (XAG/USD). Dolar yang kuat cenderung menahan harga Perak, sedangkan Dolar yang lebih lemah berpotensi mendorong kenaikan harga. Faktor lain seperti permintaan investasi, pasokan hasil pertambangan – Perak jauh lebih melimpah dibandingkan Emas – dan tingkat daur ulang juga dapat memengaruhi harga.

Perak banyak digunakan dalam industri, terutama di sektor seperti elektronik atau energi surya, karena memiliki salah satu tingkat konduktivitas listrik tertinggi di antara semua logam – lebih tinggi daripada Tembaga dan Emas. Lonjakan permintaan dapat menaikkan harga, sedangkan penurunan permintaan cenderung menurunkannya. Dinamika perekonomian AS, Tiongkok, dan India juga dapat turut memicu fluktuasi harga: di AS dan terutama Tiongkok, sektor industri yang besar menggunakan Perak dalam berbagai proses; di India, permintaan konsumen terhadap logam mulia ini untuk perhiasan juga berperan penting dalam pembentukan harga.

Harga Perak cenderung mengikuti pergerakan Emas. Ketika harga Emas naik, Perak biasanya mengikuti karena keduanya memiliki status serupa sebagai aset lindung nilai. Rasio Emas/Perak, yang menunjukkan jumlah ons Perak yang diperlukan untuk menyamai nilai satu ons Emas, dapat membantu menentukan valuasi relatif kedua logam tersebut. Sebagian investor dapat menganggap rasio yang tinggi sebagai indikator bahwa Perak dinilai terlalu rendah atau Emas dinilai terlalu tinggi. Sebaliknya, rasio yang rendah dapat mengindikasikan bahwa Emas dinilai terlalu rendah dibandingkan Perak.